Monday, November 3, 2025

Unknown

 

Menurut sebagian orang, cinta itu luka.
Sebagian yang lain bilang, cinta itu suka.

Entah dari mana asal cinta itu tumbuh..
mungkin dari keluarga yang hangat,
atau dari tempat ternyaman yang kau sebut rumah.

Lalu bagaimana dengan mereka
yang menganggap cinta adalah luka?
Apakah mereka belum punya tempat
yang bisa disebut dengan rumah?

Cinta memiliki banyak tujuan,
tapi yang tak kutemui .. cinta untuk orang asing,
yang tiba-tiba menjadi “rumah”
yang ia harap kau mau singgahi.

Dan saat kau masuk,
kau tak tahu apakah ia akan menusuk atau memeluk.
Kau tak tahu seberapa jauh
kau menggadaikan perasaanmu, bahkan ragamu.

Aku tak tahu banyak tentang cinta.
Entah ia nyata, atau hanya khayalan belaka.


Saturday, August 30, 2025

Suara

Di jalanan, teriakan kami menggema,
bukan untuk menggali harta,
bukan untuk menggali kuasa,
tapi untuk sekadar keadilan sederhana.


Namun di kursi megah,
kalian menari dengan bermandikan tunjangan,
tertawa di atas penderitaan,
sementara kami tercekik pajak,
dan suara kami kalian injak.

Kami di rendahkan,
padahal suara kami yang mereka tumpangkan,
kami hanya butuh di dengarkan,
bukan dibungkam, bukan dipadamkan.

Kami hanyalah rakyat biasa,
tak bersenjata,
tak berkuasa,
yang kami punya hanya suara,
dan itu pun mau kalian rampas paksa?

Kami masih ada,
meski ketakutan mengikat dada,
kami tetap bersuara,
meski darah yang kalian pinta.

Dan dari tenggorokan yang serak,
dari dada yang sesak,
kami tetap mendesak,
sila ke-5 berdiri tegak.

Friday, May 16, 2025

Anak yang Tak Pernah Terdaftar

Sekolah adalah tempat yang seharusnya terasa aman. Tapi bagaimana jika satu per satu siswa mulai mempertanyakan: siapa sebenarnya teman sebangkunya? Dan lebih menakutkan lagi, apakah ia benar-benar ada?

Cerita ini bukan tentang hantu, atau monster. Ini tentang bayangan yang diciptakan manusia sendiri. Tentang seseorang yang hadir, namun tak pernah terdaftar. Dan ketika satu rahasia terbuka, rahasia lain menunggu untuk ditemukan.

Selamat datang di dunia di mana kenyataan dan ingatan tidak selalu berjalan searah.

Selamat membaca. Tapi berhati-hatilah, kadang orang yang paling dekat denganmu, justru yang paling berbahaya.

— Indria



🕯️ Bab 1: Siswa Baru


Hari itu, langit di atas SMP Merah Delima digelayuti awan kelabu, seolah cuaca ikut menyimpan rahasia. Bel pertama baru saja berbunyi, dan para siswa berhamburan masuk ke kelas masing-masing.

Di antara keramaian, Raka, siswa kelas 8C, merasa ada yang tidak biasa sejak ia memasuki gerbang. Bukan karena udara yang lebih dingin dari biasanya, atau suara bel yang terdengar sedikit sumbang. Tapi karena seseorang… yang duduk di bangku paling belakang kelasnya. Seseorang yang ia yakin tidak ada kemarin.

Perempuan. Rambut sebahu. Mengenakan seragam yang sama, tapi tanpa lencana nama. Ia hanya menunduk dan mencoret-coret buku tulis dengan pulpen hitam, entah menggambar atau menulis sesuatu.

Saat guru datang, kelas menjadi hening. Pak Darto membuka buku absensi, menyebutkan nama satu per satu. Raka menunggu penasaran siapa nama gadis itu.

Namun anehnya, setelah semua nama disebut, tak ada satu pun siswa bernama asing. Bahkan bangku gadis itu tidak dipanggil.

Pak Darto tampak tak menyadari kehadirannya.

Dan yang lebih aneh lagi, ketika pelajaran berlangsung, Raka mendengar suara dari arah bangku gadis itu. Suara gumaman, seperti membaca sesuatu berulang-ulang. Tapi saat ia menoleh, bangku itu kosong.

Kosong. Iya kosong.

Raka mengedipkan mata. Baru saja ia melihat gadis itu... bukan?

Ia menoleh ke kiri, mencari konfirmasi. Teman sebangkunya, Aldi, sedang menatap papan tulis, tampak tidak menyadari apa pun.

Ketika istirahat tiba, Raka memberanikan diri bertanya pada Aldi, “Tadi... yang duduk di belakang kita, cewek itu siapa ya?”

Aldi menatap Raka dengan bingung. “Bangku belakang kosong sejak awal tahun Rak. Enggak ada siapa-siapa di sana.”


🧩 Bab 2: Tidak Ada dalam Daftar

Hari berikutnya, Raka datang lebih pagi. Jauh sebelum bel berbunyi, ia sudah duduk di bangkunya, menunggu bangku belakang terisi kembali.

Beberapa menit kemudian, dia datang.

Gadis itu melangkah masuk tanpa suara, seperti kabut pagi yang menyelinap tanpa diminta. Wajahnya tak menoleh ke siapa pun. Ia langsung duduk di bangku yang sama, membuka buku, lalu mulai menulis dengan pulpen hitam.

Pulpen itu berdarah tinta. Atau mungkin cuma bayangan Raka saja.

Saat jam pelajaran dimulai, Pak Darto seperti biasa membuka buku absensi. Raka mencermati dengan seksama.

"Aldi."

"Hadir."

"Vega."

"Hadir."

"Satria."

"Hadir."

Dan terus berlanjut... hingga selesai.

Nama itu tak pernah disebut. Seolah-olah kursi itu tidak dihuni siapa pun.

Padahal dia di sana. Ia menggambar sesuatu. Dan Raka tahu, dia bukan mimpi.

Saat jam istirahat, Raka memberanikan diri mencari tahu. Ia masuk ke ruang guru saat semua sibuk di kantin. Pak Darto meninggalkan tas dan laptop di atas meja, serta buku absensi kelas 8C terbuka.

Raka mengintip isinya.

Semua nama murid kelasnya ada. Ia membaca dari awal... hingga akhir.
30 nama.

Dan yang paling membuatnya bergidik...

Namanya sendiri pun tidak ada.

Matanya menyapu lembar itu lagi dan lagi. Tidak, ini tidak mungkin.
“Raka Dwi Prasetyo” tidak tertera di sana.

 

 

Kakinya terasa lemas.
"Aku... enggak ada?"

Tiba-tiba suara langkah mendekat. Raka buru-buru menutup buku dan pura-pura mencari spidol di rak. Pak Darto muncul di ambang pintu, *mengernyit sebentar.

"Ngapain, Rak?"
“Eh, cari spidol Pak…”
Pak Darto menatapnya agak lama. “Kamu... kelas 8C, kan?”
Raka mengangguk pelan.

Pak Darto tidak menjawab. Ia hanya diam menatapnya beberapa detik, terlalu lama untuk terasa wajar. Lalu berkata, “Jangan keluyuran di ruang guru lagi ya.”

Raka keluar dengan napas memburu. Saat berjalan di lorong, ia memutar ulang semua yang baru saja ia lihat.

Jika gadis itu tidak terdaftar… dan aku juga tidak terdaftar…
Lalu... siapa yang sebenarnya nyata?


📖 Bab 3: Buku Absensi yang Dirobek

Esok harinya aku mendapatkan informasi bahwa Aldi dipindahkan ke kelas lain hanya seminggu setelah semester dimulai. Entah kenapa, wali kelas tidak pernah menjelaskan alasannya.

Suara bel pulang terdengar seperti bisikan samar yang terseret angin. Satu per satu siswa keluar kelas, berhamburan menuju gerbang sekolah. Tapi Raka tetap duduk di kursinya. Matanya tertuju pada bangku di belakang.

Kosong.

Gadis itu sudah pergi. Seperti biasa, tanpa suara. Tanpa jejak. Bahkan bau tubuh atau suara langkah pun tidak pernah ada. Raka tidak pernah melihatnya berbicara, hanya menulis dan menggambar di buku usang yang selalu ia bawa.

Hari ini, tekad Raka sudah bulat. Ia harus tahu siapa sebenarnya gadis itu, dan yang lebih mengganggu adalah kenapa namanya sendiri tidak ada di daftar siswa?

Langit mulai memerah ketika ia menyelinap masuk ke gedung utama. Ruang guru berada di lantai satu, tapi yang dia incar bukan ruang guru biasa. Ia pernah melihat Pak Darto membuka lemari arsip yang terkunci di sebelah ruang tata usaha. Lemari itu menyimpan absensi cetak tahunan siswa.

Dengan napas tertahan, Raka menyusup ke lorong. Tidak ada satu pun guru terlihat. Mungkin masih sibuk di rapat atau pulang lebih awal.

Pintu ruang arsip tidak terkunci.

Udara di dalam ruangan itu lembap, dan aroma kertas tua bercampur jamur menusuk hidungnya. Di sisi kiri, deretan map lusuh tersusun dalam rak besi yang berkarat. Ia mencari map dengan label: “Kelas 8C - Semester Ganjil”

Matanya menelusuri rak hingga akhirnya... ia menemukannya.

Map berwarna cokelat, di bagian atasnya tertulis tangan: 8C - 2023/2024
Namun ketika ia membukanya, jantungnya langsung mencelos.

Beberapa halaman awal disobek.

Tersisa bagian tengah dan akhir, tapi bagian awal absensi semester itu hilang. Sobekannya tidak rapi, seperti disobek terburu-buru. Ia memeriksa kertas yang tersisa, dan pada halaman ke-4, ia melihat sesuatu.

Sebuah nama.
Diketik rapi, tapi dilingkari tinta merah.
Nama itu seperti setengah terhapus. Namun ia masih bisa membaca: “May…”

Jari Raka bergetar.

“Maya…?” gumamnya.

Ia membalik halaman berikutnya. Tidak ada nama itu. Seolah-olah yang tertinggal hanyalah bayangan dari seseorang yang pernah dicatat, lalu sengaja dihapus.


Ia pun menemukan sebuah catatan kecil di bagian bawah halaman terakhir.

   “Dikeluarkan dari daftar aktif karena alasan psikologis.”
     Ditandatangani: I. R.

“I.R… Bu Intan?”

Langkah cepat mendekat.

Raka tersentak dan buru-buru mengembalikan map ke tempat semula, lalu bersembunyi di balik lemari arsip. Seorang guru masuk, berbicara singkat di telepon, lalu keluar lagi.

Setelah memastikan keadaan aman, Raka menyelinap keluar dan segera menuju ke kelas. Tapi saat melewati papan pengumuman tua di lantai dua, langkahnya terhenti.

Di sana tergantung foto kelas 8C tahun lalu.
Ia mendekat. Wajah-wajah murid berjejer dalam formasi rapi.
Dan di barisan tengah... ada gadis itu.
Wajahnya yang sama. Rambut sebahu, mata tajam.
Namun ada sesuatu yang aneh.

 

Semua nama di bawah foto lengkap, kecuali satu nama di bawah wajah gadis itu. Hanya tanda “X” besar ditulis dengan tinta merah. Tidak ada nama. Tidak ada identitas.

Saat Raka kembali ke kelas untuk mengambil tasnya, ia menemukan sebuah buku gambar tergeletak di bangku belakang. Buku itu tidak ada tadi pagi. Ia tahu, karena ia selalu memperhatikan meja itu.

Dengan tangan gemetar, ia membukanya.

Di dalamnya, ada belasan gambar. Semua digambar dengan tinta hitam pekat. Sebagian besar bergaya surealis, wajah-wajah tanpa mata, lorong sekolah yang tak berujung, tangan-tangan dari langit-langit.

Namun halaman keempat belas berbeda.

Gambar itu adalah kelas mereka sendiri.

Ia mengenali meja-meja dan letak teman-temannya. Tapi yang aneh, bangku depan yang biasanya ia duduki... kosong.

Sedangkan di bangku belakang, tempat gadis itu biasa duduk ada Raka. Sendiri.
Melihat ke depan, ke arah ruang kosong yang tidak dihuni siapa pun.             

Raka menutup buku itu perlahan, lalu mendongak. Sekeliling kelas sudah gelap. Ia tak sadar hari sudah beranjak malam.


Dan saat ia hendak beranjak…
Suara langkah lembut terdengar dari belakang.
Ia menoleh. Tidak ada siapa-siapa.
Namun di papan tulis, kini ada tulisan dengan kapur putih:

“Yang tidak terdaftar tidak bisa pulang.”


📖 Bab 4: Aila dan Bangku Kosong
Hari itu, Raka tidak langsung pulang. Ia duduk sendiri di halte dekat gerbang sekolah, matanya menatap ke depan, tapi pikirannya mengembara. Buku gambar itu masih tersimpan di dalam tasnya, begitu juga ketakutan yang mulai menggerogoti logika.

"Aku yang duduk di bangku belakang…? Tapi selama ini…"

Suara motor menderu pelan, lalu berhenti. Raka tersadar saat seseorang duduk di sebelahnya. Rambut dikuncir, wajah teduh tapi mata menyimpan sesuatu yang tak mudah ditebak.

Aila.

Murid dari kelas 8A. Dulu sempat satu kelas dengan Raka waktu kelas 7. Seorang penyendiri. Sama seperti Raka… sama seperti "gadis itu".

“Bangkunya masih kosong, ya?” tanya Aila tiba-tiba, tanpa menoleh.
Raka mengerutkan kening. “Bangku siapa?”
“Yang paling belakang dekat jendela. Dulu… dia duduk di situ.”
Raka menelan ludah. “Kamu… pernah lihat dia?”

Aila mengangguk pelan. “Pernah. Tapi cuma sekali. Setelah itu, semua orang bilang aku ngaco. Katanya gak ada siapa-siapa di bangku itu. Padahal aku bicara sama dia.”

“Namanya Maya, ya?” tanya Raka, nyaris berbisik.
Aila menoleh kali ini. Pandangannya tajam, nyaris tidak percaya.

“Dari mana kamu tahu namanya?”

Raka mengeluarkan buku gambar dari dalam tas, membuka ke halaman keempat belas dan menunjukkan gambar kelas itu.

Aila menatap lama. Lalu mengangguk.
“Gaya gambar ini… sama kayak yang pernah dia kasih ke aku.”

Raka membeku. “Kamu pernah dikasih gambar?”

“Iya. Gambar tangan. Tangan dari bawah meja. Kayak... sesuatu yang coba menarik dia.” Aila menarik napas. “Aku simpan gambar itu. Tapi malamnya aku mimpi aneh. Aku lihat Maya jalan di lorong sekolah... semua pintu tertutup, dan dia terus berjalan sambil bilang, ‘Aku cuma ingin dicatat…’”

Bulu kuduk Raka meremang. “Kamu masih simpan gambarnya?”

Aila mengangguk. “Di rumah. Tapi... aku disuruh simpan baik-baik, jangan pernah kasih ke guru.”

“Maksudnya?”

“Dia bilang: ‘Kalau mereka tahu kamu ingat aku, kamu akan ikut terhapus juga.’”

Hari berikutnya, Raka dan Aila diam-diam bertemu di perpustakaan. Mereka menyelinap ke lorong belakang, tempat buku-buku lama dan catatan sekolah jaman dulu disimpan. Tidak ada CCTV di sana.

Mereka mencari data kelas lama, mencoba mencocokkan nama-nama dan wajah.

Lalu, Raka menemukan foto kelas tujuh tahun sebelumnya.

Di situ, Maya terlihat lagi. Kali ini lebih muda. Tapi sekali lagi, tidak ada nama di bawah wajahnya. Hanya satu huruf: M.

 


Di balik foto itu, tertulis dengan tangan kecil dan kasar:

    "Aku ada. Aku hadir. Aku belajar. Tapi aku tidak diakui. Maka aku menunggu."

 

Tangan Aila gemetar memegang foto itu.
“Raka… kalau semua ini nyata, bisa jadi Maya bukan sekadar murid biasa…”

Raka mengangguk pelan. “Dia mungkin… bagian dari sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang sengaja dikubur.”

Dan saat mereka berbalik untuk pergi, mereka melihat ke ujung lorong…
Seseorang berdiri diam di sana.
Bayangan seorang gadis, rambut sebahu. Tidak bergerak. Tidak bicara.
Raka dan Aila saling tatap. Ketika mereka melihat ke arah itu lagi...

Bayangan itu sudah hilang.



📖 Bab 5: Lukisan Keempat Belas

Pagi itu, sekolah terasa lebih sunyi dari biasanya. Kabut tipis menggantung di halaman, membuat bangunan tua SMP Merah Delima terlihat seperti lukisan lama yang nyaris pudar.

Raka dan Aila tidak masuk ke kelas. Mereka sepakat menyelinap menuju tempat yang nyaris tidak pernah dikunjungi lagi oleh siswa lain, ruang seni lama di sayap barat lantai tiga. Sejak kelas seni dipindahkan ke gedung baru, ruangan ini dibiarkan kosong dan terkunci.

Tapi Aila tahu sesuatu.

“Aku pernah lihat Bu Sinta simpan kunci duplikat di pot tanaman,” katanya sambil membimbing Raka ke sudut lorong. Ia mengangkat pot keramik berat, dan di bawahnya, ada benda logam kecil yang berkarat. Kunci.

Pintu ruang seni berderit saat dibuka. Debu bertebaran, aroma cat kering dan kanvas tua memenuhi udara.

Ruangan itu seperti museum yang ditinggalkan, ada rak kuas, botol tinta kering, dan lukisan-lukisan lama bersandar di dinding. Beberapa sudah mengelupas. Namun di bagian belakang ruangan, tersembunyi di balik tirai plastik, mereka menemukan rak khusus.

Lukisan-lukisan di sana berbeda.
Gaya sapuannya kasar, warnanya gelap dan menusuk. Semua dilukis oleh orang yang sama.
Maya.

Mereka mengenali tandanya dari goresan tangan dan inisial kecil di sudut: M.S.

Satu per satu mereka telusuri...

  • Lukisan 1: Seorang siswa duduk sendirian di kelas, dikelilingi bayangan-bayangan hitam tanpa wajah.
  • Lukisan 5: Lorong sekolah yang membelah jadi dua, satu terang, satu gelap gulita.
  • Lukisan 9: Seorang guru dengan mata hitam kosong, menulis nama siswa lalu menyobeknya dari buku.

Dan akhirnya…
Lukisan keempat belas.
Mereka berhenti. Nafas tertahan.

Lukisan itu memperlihatkan Raka.


Wajahnya samar, seolah belum selesai dilukis. Di belakangnya, ruang kelas 8C. Tapi meja-meja kosong. Di dinding tertulis dengan huruf merah:

    “Kamu bukan bagian dari sini.”

Yang lebih menyeramkan, Raka tidak mengenakan seragam. Ia berdiri sendirian di kelas, seperti orang asing yang tersesat.

Aila menelan ludah. “Kamu… yakin kamu benar-benar siswa sini?”

“Apa maksudmu?”

“Kalau nama kamu enggak ada di daftar… dan kamu digambar seperti ini… mungkin kamu juga... korban.”

Raka menarik napas dalam. “Atau lebih buruk... aku bagian dari hal yang lebih besar. Mungkin, selama ini aku bukan murid yang hilang... tapi murid yang ditinggalkan.”

Mereka tidak sadar, dari balik tirai ruang seni… ada mata yang memperhatikan.

Tiba-tiba, terdengar suara berderit pelan. Selembar kertas melayang dari atas rak dan jatuh tepat di depan kaki Raka. Ia membungkuk dan mengambilnya.

Surat tangan.

Tulisannya miring dan tidak rapi, seolah ditulis tergesa-gesa.


   “Kalau kau temukan lukisan ke-14, artinya kau sudah dekat. Tapi hati-hati... mereka bisa
    menghapusmu juga. Kalau mereka tahu kamu ingat, kamu akan dilupakan.”

   – M

Raka memejamkan mata sejenak. Semua mulai masuk akal, semacam pola. Pola penghapusan. Penghilangan. Bukan cuma Maya. Bukan cuma dirinya. Tapi mungkin… ada lebih banyak anak yang pernah ada, tapi dilenyapkan.

“Aila…” gumamnya, “kita harus ke ruang konseling.”
“Kenapa?”
“Karena semua nama yang dihapus pasti dicatat di sana.”



📖 Bab 6: Ruang Konseling yang Tidak Pernah Dibuka

Tidak semua pintu di sekolah bisa dibuka dengan kunci. Beberapa hanya bisa dibuka dengan keberanian.

Hari itu, Raka dan Aila berdiri di depan pintu ruang konseling lama, yang letaknya di sudut lorong perpustakaan bawah tanah. Ruangan itu sudah lama dikunci, konon sejak kejadian “anak histeris” tiga tahun lalu.

Namun Aila punya sesuatu: sebuah kunci kuno dari laci peninggalan ayahnya yang dulu guru di sekolah ini.

“Aku enggak yakin ini cocok,” gumamnya.

“Kita enggak tahu kalau enggak coba,” jawab Raka.

Kunci itu masuk, dan... klik. Pintu terbuka.

Udara dari dalam dingin dan lembap, seperti tempat yang dilupakan waktu. Lampu neon di langit-langit berkedip pelan. Ruangan itu sempit, tapi penuh lemari besi dan dokumen tua.

Di dinding tergantung lukisan abstrak wajah manusia tanpa mulut. Janggal.

Aila membuka satu laci. Ia menemukan map-map dengan label kode:
S-001, S-002, S-003… hingga S-017.
Raka mengambil satu berkas.

S-012. Nama: Maya Surya. Status: NONAKTIF. Catatan: Tidak stabil. Respons emosional tinggi. Tidak cocok untuk Kelas Eksperimen.

Dia menunjukkannya ke Aila. “Kelas Eksperimen?”

Aila membuka map lain.

S-010. Nama: Rio D.
Catatan: “Mengeluh sering melihat orang yang tidak terlihat oleh siswa lain. Dikeluarkan.”

“Aku ingat nama ini…” bisik Aila. “Rio. Anak kelas 8 tahun lalu. Tiba-tiba pindah sekolah... tapi gosipnya, dia sempat hilang dua hari sebelum itu.”

Raka diam. Ia membuka map berikutnya dan hampir menjatuhkannya.

S-015. Nama: Raka Pramana. Status: DICATAT SEBAGAI OBSERVER.

“Observer?” gumam Aila.

Raka membaca cepat catatannya:

  “Siswa ini menunjukkan kemampuan persepsi spasial tinggi. Kemungkinan sensitif terhadap
     Distorsi Memori. Amati responsnya jika ditempatkan bersama subjek ‘M.S.’”

 

Aila memandangnya, ngeri. “Kamu bagian dari eksperimen ini… tanpa kamu tahu?”

Langkah kaki mendekat dari luar.
Mereka panik, mematikan lampu, bersembunyi di balik lemari. Pintu terbuka pelan.
Seseorang masuk. Bayangan tinggi. Menghela napas berat. Suaranya terdengar pelan, tapi jelas.

“Siapa yang buka ruang ini? Ini seharusnya sudah dikunci permanen.”

Suara itu…

Pak Darto. Wali kelas mereka.
Ia berdiri diam di tengah ruangan, lalu menatap ke lukisan dinding.

“Anak-anak seperti kalian… tidak pernah tahu kapan harus berhenti.”

Tapi yang aneh, ia tidak menyisir ruangan. Ia hanya berdiri, lalu keluar… dan mengunci dari luar.

Raka dan Aila terdiam dalam gelap.

Saat keluar beberapa menit kemudian melalui jendela kecil di belakang ruang konseling, Aila menarik napas panjang.
“Jadi sekarang kita curiga siapa? Pak Darto? Bu Intan? Atau… semua guru tahu soal ini?”

Raka tidak menjawab. Ia melihat kembali pada dokumen tentang dirinya.

Di bawah halaman terakhir ada coretan baru, dengan tinta merah yang belum kering:


 
   “Status: BERUBAH. Subjek menunjukkan keterlibatan emosional dengan subjek M.S. Perlu
     dipantau ketat.”



📖 Bab 7: Memo Guru-Guru

“Tidak semua guru adalah pendidik. Kadang, mereka cuma pengamat atau lebih buruk, penjaga rahasia.”

Aila menyelinap masuk ke ruang guru saat jam olahraga. Raka berjaga di luar, berdiri di balik rak pajangan piala. Mereka hanya punya sepuluh menit sebelum jam pelajaran kembali dimulai.

Ruang guru itu rapi, hampir terlalu rapi. Setiap meja tertata seperti tak pernah digunakan, kecuali beberapa. Tapi bukan itu yang mereka cari.

Aila langsung menuju lemari arsip surat menyurat antar staf.
Di dalamnya, terdapat memo kecil berkop sekolah, tulisan tangan tergesa, ditujukan dari satu guru ke guru lainnya. Sebagian sudah menguning, tapi ada yang masih baru.

Ia mulai membaca cepat. Memo pertama dari Bu Intan, guru BK.


   “Pak Darto, subjek S-012 kembali muncul dalam sketsa siswa. Protokol penghapusan
    memori gagal total. Kita butuh penyesuaian dosis atau subjek lain akan mulai mengingat.”

Aila mencatatnya dalam hati: S-012 adalah Maya.

Memo kedua dari seseorang yang mengejutkan.

Pak Arya. Guru bahasa Indonesia. Salah satu guru yang paling disukai siswa.


Memo itu ditulis dengan rapi. Tapi isinya...
     “Saya keberatan melanjutkan keterlibatan dalam penghapusan tahap 3. Siswa-siswa ini…
      bukan hanya data. Mereka masih punya suara. Saya minta agar Maya tidak dihapus
      permanen. Tolong pertimbangkan ulang, Bu Intan.”

Aila menelan ludah. Jadi Pak Arya... tahu? Dan bahkan membela Maya?

Tapi memo terakhir membuat darahnya dingin.
    Kepada seluruh staf pengawas,


    “Subjek baru menunjukkan sinyal aktivasi: Raka Pramana. Sejak terpapar sketsa lama, ia
     menunjukkan ingatan yang seharusnya tidak tersedia. Jangan dekati dia terlalu langsung.
    Biarkan ia mendekati subjek S-012. Kita amati bagaimana memori membentuk dirinya.”

    – D

“D…?” Aila membisik. “Darto?”

Tiba-tiba, terdengar suara tumit sepatu mendekat. Langkah cepat. Suara seseorang tertawa kecil tidak gembira, tapi penuh tekanan.

Bu Intan.

Aila panik. Ia buru-buru menyelipkan memo ke dalam jaket dan mengendap ke arah jendela kecil di belakang ruang guru.
Langkah Bu Intan makin dekat. Ia bicara di telepon.


   “...kalau Raka sudah mulai tanya soal Maya, berarti waktunya kita bersihkan jejak.
     Termasuk semua sketsa itu. Dan kalau perlu... Aila juga.”

Aila nyaris menjatuhkan map di tangannya. Ia melompat keluar jendela, menjatuhkan diri ke taman belakang. Luka kecil di lutut, tapi ia tidak peduli.

 

Malam harinya, Aila dan Raka duduk di atap rumah Raka. Memo-memo itu terbuka di antara mereka.

“Jadi… yang terlihat paling baik, kayak Pak Arya, justru satu-satunya yang menolak eksperimen ini,” ujar Raka pelan.


Aila mengangguk. “Dan Bu Intan tahu tentang kita. Dia bahkan nyebut kita berdua… sebagai risiko.”
Raka menatap memo yang menyebut dirinya.

  “...kita amati bagaimana memori membentuk dirinya.”

 

Ia bergumam, “Mereka bukan cuma menghapus anak-anak. Mereka juga… membentuk ulang cara kita ingat.”
Mereka saling pandang, dan untuk pertama kalinya, Aila bicara pelan.
“Kalau begitu… mungkin Maya tidak hilang. Mungkin dia masih ada. Tapi bukan sebagai Maya.”

Raka terdiam. Sebuah kemungkinan mengerikan muncul di pikirannya.

Bagaimana jika Maya... adalah salah satu dari mereka sekarang?

Malam itu, Raka tidak bisa tidur.

Di meja belajarnya, ia menata kembali semua potongan informasi: lukisan-lukisan Maya, memo guru-guru, dan berkas ruang konseling. Semua seperti potongan puzzle yang tak punya bingkai.

Lalu ia melihat satu foto lama. Foto kelas 8C, setahun yang lalu.

Semua wajah terlihat familiar. Tapi ada satu wajah yang... terlalu familiar.

Seorang siswi dengan rambut sebahu, senyum samar, duduk di deret tengah. Di bawahnya tertulis nama yang bukan "Maya Surya" , tapi Nadya F.

"Nadya?" bisik Raka. "Bukannya dia baru pindahan tahun ini?"

Ia ambil buku tahunan dua tahun lalu. Mencari halaman kelas 7B.
Nadya tidak ada. Tapi Maya ada.

Namun anehnya, wajahnya... mirip.
Bukan kembar. Tapi seperti versi disalin ulang, senyum yang sama, sorot mata yang terlalu serupa, tapi berbeda arah.

“Bisa jadi cuma mirip…” gumamnya.

 


Tapi di balik foto Maya, ia menemukan coretan pensil samar. Hanya dua kata.
“Dia di sini.”

Dan di pojok kertas, huruf F dicoret kasar.



📖 Bab 8: Kode Merah

Jam terakhir hari itu kosong. Guru matematika tidak hadir, dan siswa lainnya memanfaatkan waktu dengan bercanda, tidur, atau bermain HP.

Kecuali satu orang.

Nadya.

Ia duduk diam di pojok belakang, menatap lurus ke papan tulis yang kosong. Tangannya menyilang rapi, tidak bicara dengan siapa pun. Bahkan ketika teman sebangkunya mengajaknya ngobrol, Nadya hanya mengangguk sekali tanpa menoleh.

Raka memperhatikannya dari kursi depan. Semakin lama ia memandang, semakin aneh perasaannya.

Aila, duduk tak jauh darinya, mencoleknya pelan. “Kamu juga lihat?”
Raka mengangguk pelan.
Lalu ia menoleh ke papan tulis… dan matanya membelalak.

Ada tulisan merah di sudut kiri bawah papan. Tulisan kecil, seakan ditulis dengan tangan yang tidak biasa.


     “Hati-hati dengan ingatanmu. Tidak semua milikmu.”

Tinta masih basah. Guru belum sempat masuk. Seseorang baru saja menulisnya.

Aila berdiri pura-pura ke depan, menyapu pandangan ke seisi kelas. Semua sibuk sendiri.

Kecuali… Nadya.
Ia kini memutar-mutar spidol merah di jarinya. Dengan tangan kiri.

Aila menatap Raka, gemetar.

“Nadya yang nulis?” bisik Aila saat mereka duduk kembali.

Raka hanya mengangguk pelan. Tapi pikirannya jauh lebih kacau.
Ia ingat wajah Maya dari sketsa-sketsa yang ia lihat. Sangat mirip. Terlalu mirip.

Setelah kelas bubar, mereka mencoba mengikuti Nadya pulang. Tapi Nadya malah berbelok ke arah yang tidak biasa, lorong ke ruang musik yang kosong.

Mereka mengintip dari balik dinding.

Nadya berdiri di depan cermin besar ruang musik. Menatap bayangannya lama sekali.


Lalu ia bicara sendiri. Suaranya pelan, tapi cukup terdengar.

     “Kalau aku bukan Maya, kenapa aku masih dengar suaranya?”

Ia tersenyum kecil. Tapi bukan senyum biasa.
Senyum itu… dingin. Kosong. Tanpa empati.

Lalu ia mengangkat tangan dan menggambar sesuatu di cermin dengan spidol merah dari sakunya. Garis. Lingkaran. Dua huruf.

M.S.

Raka menahan napas. Maya Surya.

Tiba-tiba Nadya berhenti menulis, dan menatap langsung ke arah tempat mereka bersembunyi. Tanpa ragu, tanpa ekspresi.

Lalu ia bicara, tapi suaranya mengarah ke cermin.

   “Ada yang memata-matai kita lagi. Bukan?”

Aila panik menarik Raka pergi.

Mereka berlari hingga ke luar gedung. Baru saat mereka berhenti, Aila berkata, “Itu bukan Maya. Maya enggak kayak gitu.”

“Tapi wajahnya… suaranya… bahkan tulisan tangannya...”

“Bisa jadi itu hasil eksperimen. Bukan Maya, tapi… seseorang yang dibentuk dari Maya.”

Raka diam. Di tangannya, ia masih menggenggam lembar memo yang tadi ia temukan di laci guru, entah kenapa ia ambil.

Memo itu berbunyi:

“Kepribadian subjek M.S. terlalu kuat. Percobaan integrasi dengan pola perilaku netral gagal.
  Subjek menunjukkan dualitas. Hapus satu sisi, sisakan sisi paling stabil.”

  “Sisi paling stabil: INSTING BERTAHAN. Potensi agresif, tidak emosional.”

Raka membaca ulang kata-kata itu. Nadya, jika memang dia Maya mungkin bukan hanya seseorang yang lupa siapa dirinya.

Mungkin dia juga diprogram ulang menjadi sesuatu yang lebih gelap.



📖 Bab 9: Sketsa Terakhir

Raka tidak bisa berhenti memikirkan memo itu.
"Sisi paling stabil: insting bertahan. Potensi agresif, tidak emosional."

Itu bukan sekadar deskripsi. Itu... diagnosis.
Nadya, jika benar Maya, telah dikondisikan untuk hidup tanpa sisi emosional Maya yang dulu.

Tapi jika sisi itu dihilangkan… ke mana perginya?

Hari Sabtu pagi, Aila mengajak Raka ke ruang seni lama yang tak lagi dipakai. Ia membawa sebuah kunci kecil yang ia temukan di balik rak buku perpustakaan yang konon milik Bu Rini, guru seni yang menghilang secara misterius tahun lalu.

Ruangan itu penuh debu dan ditutup plastik bening. Tapi di tengah-tengah ruangan ada sesuatu yang mencolok:

Sebuah kanvas besar, dibalik menghadap dinding.
Seolah disembunyikan dengan sengaja.

Raka dan Aila menariknya pelan.

Gambarnya...

Seorang gadis berdiri di tengah kobaran api.

Setengah wajahnya menangis, setengahnya tersenyum lebar dengan mata kosong. Di belakangnya, siluet-siluet anak-anak memudar seperti kabut. Tapi satu sosok berdiri jelas, Raka. Memegang sesuatu seperti cermin.

Tapi cermin itu memantulkan... wajah Maya.

Aila bergumam, “Ini... peringatan? Atau... pesan?”

Di sudut lukisan, ada coretan kecil yang nyaris tidak terlihat:


“Jika aku harus menghilang, simpan aku di dalam dia.”

“Dia... siapa?” bisik Aila.

Mereka terdiam. Tapi sejenak, Aila menoleh ke Raka dan berkata pelan, “Kamu pernah mimpi soal Maya sebelum lihat lukisan-lukisannya, kan?”

Raka mengangguk, perlahan.

“Dan kamu tahu nama lengkapnya, padahal enggak pernah ada dalam daftar siswa mana pun…”

Raka mulai terlihat bingung.

Aila mengeluarkan buku arsip kehadiran sekolah yang ia pinjam diam-diam dari TU. Ia buka halaman kelas 8C. Tangannya menunjuk satu hal aneh:

Nama Maya Surya tidak ada.
Tapi juga... nama Raka Pramana tidak ada.

“Raka,” katanya pelan. “Kamu sadar enggak… bisa jadi kamu juga enggak pernah terdaftar.”

Raka melangkah mundur. “Apa maksudmu?”

Aila mengambil foto lama, foto dari sketsa Maya yang lain. Sosok Raka berdiri di pojok belakang. Tapi wajahnya... tidak jelas. Seperti diburamkan.

Dan di belakang lukisan besar tadi… mereka menemukan satu catatan kecil, seolah Maya menulisnya sebelum ia “dihapus.”

   “Jika aku gagal, dia akan jadi wadahnya. Dia tak sadar karena dia bagian dariku.”
    “R.P.”

Raka memucat. “Inisialku?”

Aila mengangguk.

“Raka…” katanya pelan, “Bagaimana kalau… kamu bukan cuma temannya Maya?”

“Bagaimana kalau… kamu bagian dari Maya yang dipindahkan ingatan, sisi emosional, atau sisi yang mereka anggap ‘terlalu manusiawi’?”



Lihat selengkapnya di Lynk berikut !