Sekolah adalah tempat yang seharusnya terasa aman. Tapi bagaimana jika satu per satu siswa mulai mempertanyakan: siapa sebenarnya teman sebangkunya? Dan lebih menakutkan lagi, apakah ia benar-benar ada?
Cerita ini bukan tentang hantu, atau monster. Ini tentang bayangan yang diciptakan manusia sendiri. Tentang seseorang yang hadir, namun tak pernah terdaftar. Dan ketika satu rahasia terbuka, rahasia lain menunggu untuk ditemukan.
Selamat datang di dunia di mana kenyataan dan ingatan tidak selalu berjalan searah.
Selamat membaca. Tapi berhati-hatilah, kadang orang yang paling dekat denganmu, justru yang paling berbahaya.
— Indria
🕯️ Bab 1: Siswa Baru
Hari itu, langit di atas SMP Merah Delima digelayuti awan kelabu, seolah
cuaca ikut menyimpan rahasia. Bel pertama baru saja berbunyi, dan para siswa
berhamburan masuk ke kelas masing-masing.
Di antara keramaian, Raka, siswa kelas 8C, merasa ada
yang tidak biasa sejak ia memasuki gerbang. Bukan karena udara yang lebih
dingin dari biasanya, atau suara bel yang terdengar sedikit sumbang. Tapi
karena seseorang… yang duduk di bangku paling belakang kelasnya. Seseorang yang
ia yakin tidak ada kemarin.
Perempuan. Rambut sebahu. Mengenakan seragam yang sama, tapi
tanpa lencana nama. Ia hanya menunduk dan mencoret-coret buku tulis dengan
pulpen hitam, entah menggambar atau menulis sesuatu.
Saat guru datang, kelas menjadi hening. Pak Darto membuka
buku absensi, menyebutkan nama satu per satu. Raka menunggu penasaran siapa
nama gadis itu.
Namun anehnya, setelah semua nama disebut, tak ada satu
pun siswa bernama asing. Bahkan bangku gadis itu tidak dipanggil.
Pak Darto tampak tak menyadari kehadirannya.
Dan yang lebih aneh lagi, ketika pelajaran berlangsung, Raka
mendengar suara dari arah bangku gadis itu. Suara gumaman, seperti membaca
sesuatu berulang-ulang. Tapi saat ia menoleh, bangku itu kosong.
Kosong. Iya kosong.
Raka mengedipkan mata. Baru saja ia melihat gadis itu...
bukan?
Ia menoleh ke kiri, mencari konfirmasi. Teman sebangkunya,
Aldi, sedang menatap papan tulis, tampak tidak menyadari apa pun.
Ketika istirahat tiba, Raka memberanikan diri bertanya pada
Aldi, “Tadi... yang duduk di belakang kita, cewek itu siapa ya?”
Aldi menatap Raka dengan bingung. “Bangku belakang kosong
sejak awal tahun Rak. Enggak ada siapa-siapa di sana.”
🧩 Bab 2: Tidak Ada
dalam Daftar
Hari berikutnya, Raka datang lebih pagi. Jauh sebelum bel berbunyi, ia
sudah duduk di bangkunya, menunggu bangku belakang terisi kembali.
Beberapa menit kemudian, dia datang.
Gadis itu melangkah masuk tanpa suara, seperti kabut pagi
yang menyelinap tanpa diminta. Wajahnya tak menoleh ke siapa pun. Ia langsung
duduk di bangku yang sama, membuka buku, lalu mulai menulis dengan pulpen
hitam.
Pulpen itu berdarah tinta. Atau mungkin cuma bayangan
Raka saja.
Saat jam pelajaran dimulai, Pak Darto seperti biasa membuka
buku absensi. Raka mencermati dengan seksama.
"Aldi."
"Hadir."
"Vega."
"Hadir."
"Satria."
"Hadir."
Dan terus berlanjut... hingga selesai.
Nama itu tak pernah disebut. Seolah-olah kursi itu
tidak dihuni siapa pun.
Padahal dia di sana. Ia menggambar sesuatu. Dan Raka tahu,
dia bukan mimpi.
Saat jam istirahat, Raka memberanikan diri mencari tahu. Ia
masuk ke ruang guru saat semua sibuk di kantin. Pak Darto meninggalkan tas dan
laptop di atas meja, serta buku absensi kelas 8C terbuka.
Raka mengintip isinya.
Semua nama murid kelasnya ada. Ia membaca dari awal...
hingga akhir.
30 nama.
Dan yang paling membuatnya bergidik...
Namanya sendiri pun tidak ada.
Matanya menyapu lembar itu lagi dan lagi. Tidak, ini tidak
mungkin.
“Raka Dwi Prasetyo” tidak tertera di sana.
Kakinya terasa lemas.
"Aku... enggak ada?"
Tiba-tiba suara langkah mendekat. Raka buru-buru menutup
buku dan pura-pura mencari spidol di rak. Pak Darto muncul di ambang pintu, *mengernyit
sebentar.
"Ngapain, Rak?"
“Eh, cari spidol Pak…”
Pak Darto menatapnya agak lama. “Kamu... kelas 8C, kan?”
Raka mengangguk pelan.
Pak Darto tidak menjawab. Ia hanya diam menatapnya beberapa
detik, terlalu lama untuk terasa wajar. Lalu berkata, “Jangan keluyuran di
ruang guru lagi ya.”
Raka keluar dengan napas memburu. Saat berjalan di lorong,
ia memutar ulang semua yang baru saja ia lihat.
Jika gadis itu tidak terdaftar… dan aku juga tidak
terdaftar…
Lalu... siapa yang sebenarnya nyata?
📖 Bab 3: Buku Absensi
yang Dirobek
Esok harinya aku mendapatkan informasi bahwa Aldi
dipindahkan ke kelas lain hanya seminggu setelah semester dimulai. Entah
kenapa, wali kelas tidak pernah menjelaskan alasannya.
Suara bel pulang terdengar seperti bisikan samar yang
terseret angin. Satu per satu siswa keluar kelas, berhamburan menuju gerbang
sekolah. Tapi Raka tetap duduk di kursinya. Matanya tertuju pada bangku di
belakang.
Kosong.
Gadis itu sudah pergi. Seperti biasa, tanpa suara. Tanpa
jejak. Bahkan bau tubuh atau suara langkah pun tidak pernah ada. Raka tidak
pernah melihatnya berbicara, hanya menulis dan menggambar di buku usang yang
selalu ia bawa.
Hari ini, tekad Raka sudah bulat. Ia harus tahu siapa
sebenarnya gadis itu, dan yang lebih mengganggu adalah kenapa namanya
sendiri tidak ada di daftar siswa?
Langit mulai memerah ketika ia menyelinap masuk ke gedung utama. Ruang guru
berada di lantai satu, tapi yang dia incar bukan ruang guru biasa. Ia pernah
melihat Pak Darto membuka lemari arsip yang terkunci di sebelah ruang tata
usaha. Lemari itu menyimpan absensi cetak tahunan siswa.
Dengan napas tertahan, Raka menyusup ke lorong. Tidak ada
satu pun guru terlihat. Mungkin masih sibuk di rapat atau pulang lebih awal.
Pintu ruang arsip tidak terkunci.
Udara di dalam ruangan itu lembap, dan aroma kertas tua
bercampur jamur menusuk hidungnya. Di sisi kiri, deretan map lusuh tersusun
dalam rak besi yang berkarat. Ia mencari map dengan label: “Kelas 8C -
Semester Ganjil”
Matanya menelusuri rak hingga akhirnya... ia menemukannya.
Map berwarna cokelat, di bagian atasnya tertulis tangan: 8C
- 2023/2024
Namun ketika ia membukanya, jantungnya langsung mencelos.
Beberapa halaman awal disobek.
Tersisa bagian tengah dan akhir, tapi bagian awal absensi
semester itu hilang. Sobekannya tidak rapi, seperti disobek terburu-buru. Ia
memeriksa kertas yang tersisa, dan pada halaman ke-4, ia melihat sesuatu.
Sebuah nama.
Diketik rapi, tapi dilingkari tinta merah.
Nama itu seperti setengah terhapus. Namun ia masih bisa membaca: “May…”
Jari Raka bergetar.
“Maya…?” gumamnya.
Ia membalik halaman berikutnya. Tidak ada nama itu.
Seolah-olah yang tertinggal hanyalah bayangan dari seseorang yang pernah
dicatat, lalu sengaja dihapus.
Ia pun menemukan
sebuah catatan kecil di bagian bawah halaman terakhir.
“Dikeluarkan
dari daftar aktif karena alasan psikologis.”
Ditandatangani: I. R.
“I.R… Bu Intan?”
Langkah cepat mendekat.
Raka tersentak dan buru-buru mengembalikan map ke tempat
semula, lalu bersembunyi di balik lemari arsip. Seorang guru masuk, berbicara
singkat di telepon, lalu keluar lagi.
Setelah memastikan keadaan aman, Raka menyelinap keluar dan
segera menuju ke kelas. Tapi saat melewati papan pengumuman tua di lantai dua,
langkahnya terhenti.
Di sana tergantung foto kelas 8C tahun lalu.
Ia mendekat. Wajah-wajah murid berjejer dalam formasi rapi.
Dan di barisan tengah... ada gadis itu.
Wajahnya yang sama. Rambut sebahu, mata tajam.
Namun ada sesuatu yang aneh.
Semua nama di bawah foto lengkap, kecuali satu nama
di bawah wajah gadis itu. Hanya tanda “X” besar ditulis dengan tinta merah.
Tidak ada nama. Tidak ada identitas.
Saat Raka kembali ke kelas untuk mengambil tasnya, ia
menemukan sebuah buku gambar tergeletak di bangku belakang. Buku itu
tidak ada tadi pagi. Ia tahu, karena ia selalu memperhatikan meja itu.
Dengan tangan gemetar, ia membukanya.
Di dalamnya, ada belasan gambar. Semua digambar dengan tinta
hitam pekat. Sebagian besar bergaya surealis, wajah-wajah tanpa mata, lorong
sekolah yang tak berujung, tangan-tangan dari langit-langit.
Namun halaman keempat belas berbeda.
Gambar itu adalah kelas mereka sendiri.
Ia mengenali meja-meja dan letak teman-temannya. Tapi yang
aneh, bangku depan yang biasanya ia duduki... kosong.
Sedangkan di bangku belakang, tempat gadis itu biasa duduk ada
Raka. Sendiri.
Melihat ke depan, ke arah ruang kosong yang tidak dihuni siapa pun.
Raka menutup buku itu perlahan, lalu mendongak. Sekeliling
kelas sudah gelap. Ia tak sadar hari sudah beranjak malam.
Dan saat ia hendak
beranjak…
Suara langkah lembut terdengar dari belakang.
Ia menoleh. Tidak ada siapa-siapa.
Namun di papan tulis, kini ada tulisan dengan kapur putih:
“Yang tidak terdaftar tidak bisa pulang.”
📖 Bab 4: Aila dan
Bangku Kosong
Hari itu, Raka tidak langsung pulang. Ia duduk sendiri di halte dekat
gerbang sekolah, matanya menatap ke depan, tapi pikirannya mengembara. Buku
gambar itu masih tersimpan di dalam tasnya, begitu juga ketakutan yang mulai
menggerogoti logika.
"Aku yang duduk di bangku belakang…? Tapi selama
ini…"
Suara motor menderu pelan, lalu berhenti. Raka tersadar saat
seseorang duduk di sebelahnya. Rambut dikuncir, wajah teduh tapi mata menyimpan
sesuatu yang tak mudah ditebak.
Aila.
Murid dari kelas 8A. Dulu sempat satu kelas dengan Raka
waktu kelas 7. Seorang penyendiri. Sama seperti Raka… sama seperti "gadis
itu".
“Bangkunya masih kosong, ya?” tanya Aila tiba-tiba, tanpa
menoleh.
Raka mengerutkan kening. “Bangku siapa?”
“Yang paling belakang dekat jendela. Dulu… dia duduk di situ.”
Raka menelan ludah. “Kamu… pernah lihat dia?”
Aila mengangguk pelan. “Pernah. Tapi cuma sekali. Setelah
itu, semua orang bilang aku ngaco. Katanya gak ada siapa-siapa di bangku itu.
Padahal aku bicara sama dia.”
“Namanya Maya, ya?” tanya Raka, nyaris berbisik.
Aila menoleh kali ini. Pandangannya tajam, nyaris tidak percaya.
“Dari mana kamu tahu namanya?”
Raka mengeluarkan buku gambar dari dalam tas, membuka ke
halaman keempat belas dan menunjukkan gambar kelas itu.
Aila menatap lama. Lalu mengangguk.
“Gaya gambar ini… sama kayak yang pernah dia kasih ke aku.”
Raka membeku. “Kamu pernah dikasih gambar?”
“Iya. Gambar tangan. Tangan dari bawah meja. Kayak...
sesuatu yang coba menarik dia.” Aila menarik napas. “Aku simpan gambar itu.
Tapi malamnya aku mimpi aneh. Aku lihat Maya jalan di lorong sekolah... semua
pintu tertutup, dan dia terus berjalan sambil bilang, ‘Aku cuma ingin
dicatat…’”
Bulu kuduk Raka meremang. “Kamu masih simpan gambarnya?”
Aila mengangguk. “Di rumah. Tapi... aku disuruh simpan
baik-baik, jangan pernah kasih ke guru.”
“Maksudnya?”
“Dia bilang: ‘Kalau mereka tahu kamu ingat aku, kamu akan
ikut terhapus juga.’”
Hari berikutnya, Raka dan Aila diam-diam bertemu di
perpustakaan. Mereka menyelinap ke lorong belakang, tempat buku-buku lama dan
catatan sekolah jaman dulu disimpan. Tidak ada CCTV di sana.
Mereka mencari data kelas lama, mencoba mencocokkan
nama-nama dan wajah.
Lalu, Raka menemukan foto kelas tujuh tahun sebelumnya.
Di situ, Maya terlihat lagi. Kali ini lebih muda. Tapi
sekali lagi, tidak ada nama di bawah wajahnya. Hanya satu huruf: M.
Di balik foto itu,
tertulis dengan tangan kecil dan kasar:
"Aku ada. Aku
hadir. Aku belajar. Tapi aku tidak diakui. Maka aku menunggu."
Tangan Aila gemetar memegang foto itu.
“Raka… kalau semua ini nyata, bisa jadi Maya bukan sekadar murid biasa…”
Raka mengangguk pelan. “Dia mungkin… bagian dari sesuatu
yang lebih besar. Sesuatu yang sengaja dikubur.”
Dan saat mereka berbalik untuk pergi, mereka melihat ke
ujung lorong…
Seseorang berdiri diam di sana.
Bayangan seorang gadis, rambut sebahu. Tidak bergerak. Tidak bicara.
Raka dan Aila saling tatap. Ketika mereka melihat ke arah itu lagi...
Bayangan itu sudah hilang.
📖 Bab 5: Lukisan
Keempat Belas
Pagi itu, sekolah terasa lebih sunyi dari biasanya. Kabut
tipis menggantung di halaman, membuat bangunan tua SMP Merah Delima terlihat
seperti lukisan lama yang nyaris pudar.
Raka dan Aila tidak masuk ke kelas. Mereka sepakat
menyelinap menuju tempat yang nyaris tidak pernah dikunjungi lagi oleh siswa
lain, ruang seni lama di sayap barat lantai tiga. Sejak kelas seni
dipindahkan ke gedung baru, ruangan ini dibiarkan kosong dan terkunci.
Tapi Aila tahu sesuatu.
“Aku pernah lihat Bu Sinta simpan kunci duplikat di pot
tanaman,” katanya sambil membimbing Raka ke sudut lorong. Ia mengangkat pot
keramik berat, dan di bawahnya, ada benda logam kecil yang berkarat. Kunci.
Pintu ruang seni berderit saat dibuka. Debu bertebaran,
aroma cat kering dan kanvas tua memenuhi udara.
Ruangan itu seperti museum yang ditinggalkan, ada rak kuas,
botol tinta kering, dan lukisan-lukisan lama bersandar di dinding. Beberapa
sudah mengelupas. Namun di bagian belakang ruangan, tersembunyi di balik tirai
plastik, mereka menemukan rak khusus.
Lukisan-lukisan di sana berbeda.
Gaya sapuannya kasar, warnanya gelap dan menusuk. Semua dilukis oleh orang yang
sama.
Maya.
Mereka mengenali tandanya dari goresan tangan dan inisial
kecil di sudut: M.S.
Satu per satu mereka telusuri...
- Lukisan
1: Seorang siswa duduk sendirian di kelas, dikelilingi bayangan-bayangan
hitam tanpa wajah.
- Lukisan
5: Lorong sekolah yang membelah jadi dua, satu terang, satu gelap gulita.
- Lukisan
9: Seorang guru dengan mata hitam kosong, menulis nama siswa lalu
menyobeknya dari buku.
Dan akhirnya…
Lukisan keempat belas.
Mereka berhenti. Nafas tertahan.
Lukisan itu memperlihatkan Raka.
Wajahnya samar, seolah
belum selesai dilukis. Di belakangnya, ruang kelas 8C. Tapi meja-meja kosong.
Di dinding tertulis dengan huruf merah:
“Kamu bukan
bagian dari sini.”
Yang lebih menyeramkan, Raka tidak mengenakan seragam. Ia
berdiri sendirian di kelas, seperti orang asing yang tersesat.
Aila menelan ludah. “Kamu… yakin kamu benar-benar siswa
sini?”
“Apa maksudmu?”
“Kalau nama kamu enggak ada di daftar… dan kamu digambar
seperti ini… mungkin kamu juga... korban.”
Raka menarik napas dalam. “Atau lebih buruk... aku bagian
dari hal yang lebih besar. Mungkin, selama ini aku bukan murid yang hilang...
tapi murid yang ditinggalkan.”
Mereka tidak sadar, dari balik tirai ruang seni… ada mata
yang memperhatikan.
Tiba-tiba, terdengar suara berderit pelan. Selembar kertas
melayang dari atas rak dan jatuh tepat di depan kaki Raka. Ia membungkuk dan
mengambilnya.
Surat tangan.
Tulisannya miring dan tidak rapi, seolah ditulis
tergesa-gesa.
“Kalau kau temukan lukisan ke-14, artinya kau sudah dekat. Tapi
hati-hati... mereka bisa
menghapusmu juga. Kalau mereka tahu
kamu ingat, kamu akan dilupakan.”
– M
Raka memejamkan mata sejenak. Semua mulai masuk akal, semacam
pola. Pola penghapusan. Penghilangan. Bukan cuma Maya. Bukan cuma dirinya. Tapi
mungkin… ada lebih banyak anak yang pernah ada, tapi dilenyapkan.
“Aila…” gumamnya, “kita harus ke ruang konseling.”
“Kenapa?”
“Karena semua nama yang dihapus pasti dicatat di sana.”
📖 Bab 6: Ruang Konseling
yang Tidak Pernah Dibuka
Tidak semua pintu di sekolah bisa dibuka dengan kunci.
Beberapa hanya bisa dibuka dengan keberanian.
Hari itu, Raka dan Aila berdiri di depan pintu ruang
konseling lama, yang letaknya di sudut lorong perpustakaan bawah tanah.
Ruangan itu sudah lama dikunci, konon sejak kejadian “anak histeris” tiga tahun
lalu.
Namun Aila punya sesuatu: sebuah kunci kuno dari laci
peninggalan ayahnya yang dulu guru di sekolah ini.
“Aku enggak yakin ini cocok,” gumamnya.
“Kita enggak tahu kalau enggak coba,” jawab Raka.
Kunci itu masuk, dan... klik. Pintu terbuka.
Udara dari dalam dingin dan lembap, seperti tempat yang
dilupakan waktu. Lampu neon di langit-langit berkedip pelan. Ruangan itu
sempit, tapi penuh lemari besi dan dokumen tua.
Di dinding tergantung lukisan abstrak wajah manusia tanpa
mulut. Janggal.
Aila membuka satu laci. Ia menemukan map-map dengan label
kode:
S-001, S-002, S-003… hingga S-017.
Raka mengambil satu berkas.
S-012. Nama: Maya Surya. Status: NONAKTIF. Catatan: Tidak
stabil. Respons emosional tinggi. Tidak cocok untuk Kelas Eksperimen.
Dia menunjukkannya ke Aila. “Kelas Eksperimen?”
Aila membuka map lain.
S-010. Nama: Rio D.
Catatan: “Mengeluh sering melihat orang yang tidak terlihat oleh siswa lain.
Dikeluarkan.”
“Aku ingat nama ini…” bisik Aila. “Rio. Anak kelas 8 tahun
lalu. Tiba-tiba pindah sekolah... tapi gosipnya, dia sempat hilang dua hari
sebelum itu.”
Raka diam. Ia membuka map berikutnya dan hampir
menjatuhkannya.
S-015. Nama: Raka Pramana. Status: DICATAT SEBAGAI
OBSERVER.
“Observer?” gumam Aila.
Raka membaca cepat catatannya:
“Siswa ini menunjukkan kemampuan persepsi
spasial tinggi. Kemungkinan sensitif terhadap
Distorsi Memori. Amati responsnya
jika ditempatkan bersama subjek ‘M.S.’”
Aila memandangnya, ngeri. “Kamu bagian dari eksperimen ini…
tanpa kamu tahu?”
Langkah kaki mendekat dari luar.
Mereka panik, mematikan lampu, bersembunyi di balik lemari. Pintu terbuka
pelan.
Seseorang masuk. Bayangan tinggi. Menghela napas berat. Suaranya terdengar
pelan, tapi jelas.
“Siapa yang buka ruang ini? Ini seharusnya sudah dikunci
permanen.”
Suara itu…
Pak Darto. Wali kelas mereka.
Ia berdiri diam di tengah ruangan, lalu menatap ke lukisan dinding.
“Anak-anak seperti kalian… tidak pernah tahu kapan harus
berhenti.”
Tapi yang aneh, ia tidak menyisir ruangan. Ia hanya berdiri,
lalu keluar… dan mengunci dari luar.
Raka dan Aila terdiam dalam gelap.
Saat keluar beberapa menit kemudian melalui jendela kecil di
belakang ruang konseling, Aila menarik napas panjang.
“Jadi sekarang kita curiga siapa? Pak Darto? Bu Intan? Atau… semua guru tahu
soal ini?”
Raka tidak menjawab. Ia melihat kembali pada dokumen tentang
dirinya.
Di bawah halaman terakhir ada coretan baru, dengan tinta
merah yang belum kering:
“Status: BERUBAH. Subjek menunjukkan
keterlibatan emosional dengan subjek M.S. Perlu
dipantau ketat.”
📖 Bab 7: Memo Guru-Guru
“Tidak semua guru adalah pendidik. Kadang, mereka cuma
pengamat atau lebih buruk, penjaga rahasia.”
Aila menyelinap masuk ke ruang guru saat jam olahraga. Raka
berjaga di luar, berdiri di balik rak pajangan piala. Mereka hanya punya sepuluh
menit sebelum jam pelajaran kembali dimulai.
Ruang guru itu rapi, hampir terlalu rapi. Setiap meja
tertata seperti tak pernah digunakan, kecuali beberapa. Tapi bukan itu yang
mereka cari.
Aila langsung menuju lemari arsip surat menyurat antar staf.
Di dalamnya, terdapat memo kecil berkop sekolah, tulisan tangan tergesa,
ditujukan dari satu guru ke guru lainnya. Sebagian sudah menguning, tapi ada
yang masih baru.
Ia mulai membaca cepat. Memo pertama dari Bu Intan, guru BK.
“Pak Darto, subjek S-012 kembali muncul
dalam sketsa siswa. Protokol penghapusan
memori gagal total. Kita butuh
penyesuaian dosis atau subjek lain akan mulai mengingat.”
Aila mencatatnya dalam hati: S-012 adalah Maya.
Memo kedua dari seseorang yang mengejutkan.
Pak Arya. Guru bahasa Indonesia. Salah satu guru yang
paling disukai siswa.
Memo itu ditulis dengan rapi. Tapi
isinya...
“Saya keberatan melanjutkan
keterlibatan dalam penghapusan tahap 3. Siswa-siswa ini…
bukan hanya data. Mereka masih
punya suara. Saya minta agar Maya tidak dihapus
permanen. Tolong pertimbangkan
ulang, Bu Intan.”
Aila menelan ludah. Jadi Pak Arya... tahu? Dan bahkan membela Maya?
Tapi memo terakhir membuat darahnya dingin.
Kepada seluruh staf pengawas,
“Subjek baru menunjukkan sinyal aktivasi: Raka Pramana. Sejak terpapar
sketsa lama, ia
menunjukkan ingatan yang seharusnya
tidak tersedia. Jangan dekati dia terlalu langsung.
Biarkan ia mendekati subjek S-012.
Kita amati bagaimana memori membentuk dirinya.”
– D
“D…?” Aila membisik. “Darto?”
Tiba-tiba, terdengar suara tumit sepatu mendekat. Langkah
cepat. Suara seseorang tertawa kecil tidak gembira, tapi penuh tekanan.
Bu Intan.
Aila panik. Ia buru-buru menyelipkan memo ke dalam jaket dan
mengendap ke arah jendela kecil di belakang ruang guru.
Langkah Bu Intan makin dekat. Ia bicara di telepon.
“...kalau Raka sudah mulai tanya soal Maya, berarti waktunya kita
bersihkan jejak.
Termasuk semua sketsa itu. Dan kalau
perlu... Aila juga.”
Aila nyaris menjatuhkan map di tangannya. Ia melompat keluar
jendela, menjatuhkan diri ke taman belakang. Luka kecil di lutut, tapi ia tidak
peduli.
Malam harinya, Aila dan Raka duduk di atap rumah Raka.
Memo-memo itu terbuka di antara mereka.
“Jadi… yang terlihat paling baik, kayak Pak Arya, justru
satu-satunya yang menolak eksperimen ini,” ujar Raka pelan.
Aila mengangguk. “Dan Bu Intan tahu
tentang kita. Dia bahkan nyebut kita berdua… sebagai risiko.”
Raka menatap memo yang menyebut dirinya.
“...kita amati
bagaimana memori membentuk dirinya.”
Ia bergumam, “Mereka bukan cuma menghapus anak-anak. Mereka
juga… membentuk ulang cara kita ingat.”
Mereka saling pandang, dan untuk pertama kalinya, Aila bicara pelan.
“Kalau begitu… mungkin Maya tidak hilang. Mungkin dia masih ada. Tapi bukan
sebagai Maya.”
Raka terdiam. Sebuah kemungkinan mengerikan muncul di
pikirannya.
Bagaimana jika Maya... adalah salah satu dari mereka
sekarang?
Malam itu, Raka tidak bisa tidur.
Di meja belajarnya, ia menata kembali semua potongan
informasi: lukisan-lukisan Maya, memo guru-guru, dan berkas ruang konseling.
Semua seperti potongan puzzle yang tak punya bingkai.
Lalu ia melihat satu foto lama. Foto kelas 8C, setahun yang
lalu.
Semua wajah terlihat familiar. Tapi ada satu wajah yang... terlalu
familiar.
Seorang siswi dengan rambut sebahu, senyum samar, duduk di
deret tengah. Di bawahnya tertulis nama yang bukan "Maya Surya" , tapi
Nadya F.
"Nadya?" bisik Raka. "Bukannya dia baru
pindahan tahun ini?"
Ia ambil buku tahunan dua tahun lalu. Mencari halaman kelas
7B.
Nadya tidak ada. Tapi Maya ada.
Namun anehnya, wajahnya... mirip.
Bukan kembar. Tapi seperti versi disalin ulang, senyum yang sama, sorot
mata yang terlalu serupa, tapi berbeda arah.
“Bisa jadi cuma mirip…” gumamnya.
Tapi di balik foto Maya, ia menemukan
coretan pensil samar. Hanya dua kata.
“Dia di sini.”
Dan di pojok kertas, huruf F dicoret kasar.
📖 Bab 8: Kode Merah
Jam terakhir hari itu kosong. Guru matematika tidak hadir,
dan siswa lainnya memanfaatkan waktu dengan bercanda, tidur, atau bermain HP.
Kecuali satu orang.
Nadya.
Ia duduk diam di pojok belakang, menatap lurus ke papan
tulis yang kosong. Tangannya menyilang rapi, tidak bicara dengan siapa pun.
Bahkan ketika teman sebangkunya mengajaknya ngobrol, Nadya hanya mengangguk
sekali tanpa menoleh.
Raka memperhatikannya dari kursi depan. Semakin lama ia
memandang, semakin aneh perasaannya.
Aila, duduk tak jauh darinya, mencoleknya pelan. “Kamu juga
lihat?”
Raka mengangguk pelan.
Lalu ia menoleh ke papan tulis… dan matanya membelalak.
Ada tulisan merah di sudut kiri bawah papan. Tulisan
kecil, seakan ditulis dengan tangan yang tidak biasa.
“Hati-hati dengan ingatanmu. Tidak semua
milikmu.”
Tinta masih basah. Guru belum sempat masuk. Seseorang baru
saja menulisnya.
Aila berdiri pura-pura ke depan, menyapu pandangan ke seisi
kelas. Semua sibuk sendiri.
Kecuali… Nadya.
Ia kini memutar-mutar spidol merah di jarinya. Dengan tangan kiri.
Aila menatap Raka, gemetar.
“Nadya yang nulis?” bisik Aila saat mereka duduk kembali.
Raka hanya mengangguk pelan. Tapi pikirannya jauh lebih
kacau.
Ia ingat wajah Maya dari sketsa-sketsa yang ia lihat. Sangat mirip. Terlalu
mirip.
Setelah kelas bubar, mereka mencoba mengikuti Nadya pulang.
Tapi Nadya malah berbelok ke arah yang tidak biasa, lorong ke ruang musik yang
kosong.
Mereka mengintip dari balik dinding.
Nadya berdiri di depan cermin besar ruang musik. Menatap
bayangannya lama sekali.
Lalu ia bicara sendiri. Suaranya
pelan, tapi cukup terdengar.
“Kalau aku bukan Maya, kenapa aku masih dengar
suaranya?”
Ia tersenyum kecil. Tapi bukan senyum biasa.
Senyum itu… dingin. Kosong. Tanpa empati.
Lalu ia mengangkat tangan dan menggambar sesuatu di cermin
dengan spidol merah dari sakunya. Garis. Lingkaran. Dua huruf.
M.S.
Raka menahan napas. Maya Surya.
Tiba-tiba Nadya berhenti menulis, dan menatap langsung ke
arah tempat mereka bersembunyi. Tanpa ragu, tanpa ekspresi.
Lalu ia bicara, tapi suaranya mengarah ke cermin.
“Ada yang memata-matai kita lagi. Bukan?”
Aila panik menarik Raka pergi.
Mereka berlari hingga ke luar gedung. Baru saat mereka
berhenti, Aila berkata, “Itu bukan Maya. Maya enggak kayak gitu.”
“Tapi wajahnya… suaranya… bahkan tulisan tangannya...”
“Bisa jadi itu hasil eksperimen. Bukan Maya, tapi… seseorang
yang dibentuk dari Maya.”
Raka diam. Di tangannya, ia masih menggenggam lembar memo
yang tadi ia temukan di laci guru, entah kenapa ia ambil.
Memo itu berbunyi:
“Kepribadian subjek M.S. terlalu kuat. Percobaan integrasi
dengan pola perilaku netral gagal.
Subjek menunjukkan dualitas. Hapus satu
sisi, sisakan sisi paling stabil.”
“Sisi paling
stabil: INSTING BERTAHAN. Potensi agresif, tidak emosional.”
Raka membaca ulang kata-kata itu. Nadya, jika memang dia
Maya mungkin bukan hanya seseorang yang lupa siapa dirinya.
Mungkin dia juga diprogram ulang menjadi sesuatu yang
lebih gelap.
📖 Bab 9: Sketsa
Terakhir
Raka tidak bisa berhenti memikirkan memo itu.
"Sisi paling stabil: insting bertahan. Potensi agresif, tidak
emosional."
Itu bukan sekadar deskripsi. Itu... diagnosis.
Nadya, jika benar Maya, telah dikondisikan untuk hidup tanpa sisi emosional
Maya yang dulu.
Tapi jika sisi itu dihilangkan… ke mana perginya?
Hari Sabtu pagi, Aila mengajak Raka ke ruang seni lama yang
tak lagi dipakai. Ia membawa sebuah kunci kecil yang ia temukan di balik rak
buku perpustakaan yang konon milik Bu Rini, guru seni yang menghilang
secara misterius tahun lalu.
Ruangan itu penuh debu dan ditutup plastik bening. Tapi di
tengah-tengah ruangan ada sesuatu yang mencolok:
Sebuah kanvas besar, dibalik menghadap dinding.
Seolah disembunyikan dengan sengaja.
Raka dan Aila menariknya pelan.
Gambarnya...
Seorang gadis berdiri di tengah kobaran api.
Setengah wajahnya menangis, setengahnya tersenyum lebar
dengan mata kosong. Di belakangnya, siluet-siluet anak-anak memudar seperti
kabut. Tapi satu sosok berdiri jelas, Raka. Memegang sesuatu seperti
cermin.
Tapi cermin itu memantulkan... wajah Maya.
Aila bergumam, “Ini... peringatan? Atau... pesan?”
Di sudut lukisan, ada coretan kecil yang nyaris tidak
terlihat:
“Jika aku harus menghilang, simpan aku di
dalam dia.”
“Dia... siapa?” bisik Aila.
Mereka terdiam. Tapi sejenak, Aila menoleh ke Raka dan
berkata pelan, “Kamu pernah mimpi soal Maya sebelum lihat lukisan-lukisannya,
kan?”
Raka mengangguk, perlahan.
“Dan kamu tahu nama lengkapnya, padahal enggak pernah ada
dalam daftar siswa mana pun…”
Raka mulai terlihat bingung.
Aila mengeluarkan buku arsip kehadiran sekolah yang ia
pinjam diam-diam dari TU. Ia buka halaman kelas 8C. Tangannya menunjuk satu hal
aneh:
Nama Maya Surya tidak ada.
Tapi juga... nama Raka Pramana tidak ada.
“Raka,” katanya pelan. “Kamu sadar enggak… bisa jadi kamu
juga enggak pernah terdaftar.”
Raka melangkah mundur. “Apa maksudmu?”
Aila mengambil foto lama, foto dari sketsa Maya yang lain.
Sosok Raka berdiri di pojok belakang. Tapi wajahnya... tidak jelas.
Seperti diburamkan.
Dan di belakang lukisan besar tadi… mereka menemukan satu
catatan kecil, seolah Maya menulisnya sebelum ia “dihapus.”
“Jika aku gagal, dia akan jadi wadahnya. Dia tak sadar karena dia bagian
dariku.”
“R.P.”
Raka memucat. “Inisialku?”
Aila mengangguk.
“Raka…” katanya pelan,
“Bagaimana kalau… kamu bukan cuma temannya Maya?”
“Bagaimana kalau… kamu bagian
dari Maya yang dipindahkan ingatan, sisi emosional, atau sisi yang mereka
anggap ‘terlalu manusiawi’?”
Lihat selengkapnya di Lynk berikut !